serba salah
Serba salah.
Ngeliat dia dengan suka rela beratapkan langit malam, ada
bagian dari diri gue yang ngerasa bersalah. Ngeliat dia berlagak kalo baik-baik
aja terjaga semalaman bikin gue sedih, karena untuk pertama kalinya gue sadar
sepenuhnya kalo jadi dia itu bener-bener capek. Dia menderita, tapi dia masih
bisa menahannya dengan luar biasa. Gue kehilangan kata-kata, karena entah
hidayah dari mana semua hal yang udah dia lalui selama berbulan-bulan di sini
terputar di kepala. Seandainya gue yang menjalani takdirnya, mungkin gue udah
menjadi manusia yang tenggelam dalam kriminalitas. Mungkin gue udah membunuh
diri gue sendiri atau mengutuk semua manusia di muka bumi. Tapi dia masih di sini,
masih menjadi manusia beradab dengan kesabaran yang luar biasa luasnya.
Gue selama ini nggak bisa melihat seutuhnya. Gue hanya tau, “Oke,
dia sabar, dia kuat.” Lalu semua fakta gue abaikan dan hanya berfokus pada apa
yang gue rasakan, apa yang gue alami, apa yang gue korbankan. Seolah hanya gue
yang menderita, seolah hanya gue yang menjadi pemeran utama dalam takdir yang
kayak tai ini. Gue melupakan dia, yang juga sama menderitanya—atau bahkan lebih
menderita dari gue. Bahkan parahnya, gue turut andil dalam membebaninya, gue
ikut serta dalam memojokannya, menginjak dan “menganiaya” ketabahannya. Gue meragukan
segala alasan yang dia berikan, gue memaksakan kehendak seolah gue yang paling
mengerti keadaannya.
Sebenernya, kalo dipikir-pikir kita sama-sama beban untuk
satu sama lain. Tapi menakjubkannya, kita masih sama-sama, bahkan sampe detik
ini. Selain karena kita emang butuh satu sama lain, nyatanya mungkin karena
kita emang harus sama-sama, kan? Lucunya, kalo bukan karena dia, kita udah
bubar dari lama. Dan inti komedinya, gue masih meragukan perasaannya, bahkan
sampe detik ini.
Semuanya nggak lain dan nggak bukan karena satu perempuan
yang namanya selalu menghantui hubungan ini sejak jaman batu.
Panggil aja dia mobajing—monyet babi anjing.
Kenapa gue bisa sekasar itu sama dia? Karena gue emang
senggak suka itu sama perempuan itu. Kalo ditanya kenapa, gue nggak bisa
memberikan alasan yang jelas. Kenggak sukaan gue nggak mungkin didasari dengan
alasan sedangkal “karena dia bikin gue nunggu berjam-jam” atau “karena dia
mantan pacarnya yang paling berkesan.”
Gue sampe detik ini pun sejujurnya nggak tau kenapa kenggak
sukaan gue bisa sedalam ini. Gue terganggu, gue merasa tersaingi, dan gue
mungkin takut..
Karena tragisnya, setelah udah sedalam ini hubungan gue dan dia,
endingnya masih belum jelas. Gue dan dia bisa kompak memastikan bahwa kita
bakalan berakhir diikatan pernikahan, tapi restu masih menjadi halangan. Kalo seandainya
kita nggak bisa bersama-sama, gue yakin dia akan berakhir sama mobajing. Sebenernya
bukan urusan gue, tapi ada bagian dari hati gue yang nggak rela dia sama mobajing
dan ada juga bagian dari hati gue yang justru ingin dia sama mobajing.
Gue terlalu sayang sama dia, dan jelas gue menginginkan yang
terbaik buat dia. Walaupun gue nggak tau gimana hubungan dia dan mobajing, tapi
dari ceritanya, mobajing ini adalah sebuah kesempurnaan. Mobajing sialan ini
juga udah secure secara finansial, yang berarti dia nggak akan pernah lagi mengulang
takdirnya sekarang, hidupnya akan aman jika seandainya amit-amit jabang bayi
dia terpuruk lagi seperti sekarang. Dia juga bilang, dari segi sifat mobajing
ini yang “paling” baik. Mereka nggak pernah ribut, selalu adem ayem—walaupun sebenernya
kayak gini juga nggak bagus sih, berarti belum keliatan semua-semuanya. Tapi seenggaknya,
mereka udah sama-sama stabil baik secara emosi dan finansial. Sungguh pasangan
yang serasi, kan?
Tapi gue juga nggak rela dia sama mobajing. Kalo sama gue
nggak bisa, mobajing juga harusnya nggak bisa. Gue nggak terima, karena
seharusnya, dia hanya untuk gue. SEHARUSNYA.
Karena gue nggak yakin butuh waktu berapa lama untuk menggantikan
posisi dia di hati dan hidup gue. Dia udah masuk terlalu jauh, posisinya
terlalu kuat dan saklek. Kalo pun pada akhirnya nggak bisa bersama, gue harus
gimana?
Nggak ada yang tau semua kejelekan gue dan semua niat jahat
yang terlintas di otak gue selain dia. Dan dia masih di sini, tetap bersikukuh
untuk bertahan padahal dia bisa mencari sosok perempuan dengan kualitas hati
yang lebih baik dari pada gue. Siapa yang sanggup merebut posisi dia nantinya?
Dia nyaris sempurna.
Hanya pedangnya yang jadi kekurangannya. Seandainya dia bisa
mengontrol pedangnya dan juga imannya, dia akan jadi sosok lelaki yang
sempurna. Siapa yang bisa berpaling dari lelaki yang mempunyai kesabaran seluas
dirinya? Selama berbulan-bulan di sini pun, gue sadar betul hati dia itu baik,
jauh lebih baik dari hati gue sendiri. Kualitas dirinya, dia ada di atas gue. Dia
orang baik, dan gue yakin akan hal itu.
Apakah gue harus merayu pada Tuhan gue sendiri supaya dia
bisa lebih dekat pada-Nya?